Desa Seboto, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali, menjadi calon desa mitra yang dipilih oleh HMP PTI FKIP UMS dalam usulan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026. Pada pengusulan ini, HMP PTI FKIP UMS mengangkat topik Smart Farming dengan fokus pada penguatan budidaya bibit kopi berbasis teknologi untuk mendukung pertanian yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Pemilihan Desa Seboto berangkat dari karakter wilayahnya yang kuat sebagai desa agraris. Desa ini memiliki 47 RT dan 10 RW dengan jumlah penduduk sekitar 5.062 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.123 warga bekerja sebagai petani, dan 463 di antaranya merupakan petani kopi. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian bukan hanya menjadi mata pencaharian utama warga, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi pengembangan ekonomi desa.
Potensi utama Desa Seboto terlihat pada komoditas kopi. Wilayah ini memiliki lahan perkebunan kopi robusta seluas sekitar 30 hektar yang tersebar di beberapa dusun, dengan kondisi agroklimat dataran tinggi sekitar 700 mdpl yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kopi. Keberadaan 10 kelompok tani dengan rata-rata lebih dari 20 anggota per kelompok, ditambah sekitar 200 petani muda, menjadi modal sosial yang kuat untuk mendorong inovasi pertanian di tingkat desa.
Potensi tersebut semakin besar setelah adanya bantuan 25.000 bibit kopi dari Pemerintah Kabupaten Boyolali yang disalurkan kepada kelompok tani di Desa Seboto. Setiap anggota menerima sekitar 50–100 bibit sesuai kesiapan lahan. Bantuan ini memperlihatkan bahwa Desa Seboto memiliki arah pengembangan yang jelas pada sektor kopi, namun di saat yang sama juga membutuhkan pengelolaan yang lebih tepat agar bibit yang telah ditanam benar-benar mampu tumbuh optimal.
Di balik peluang tersebut, Desa Seboto juga menghadapi persoalan nyata pada tahap awal budidaya bibit kopi. Pemantauan kondisi tanah seperti pH, kelembapan, dan suhu masih dilakukan secara konvensional, sementara pemupukan umumnya masih didasarkan pada kebiasaan tanpa dukungan data yang terukur. Dalam hasil pemantauan awal, dari 25.000 bibit yang ditanam, sekitar 4.000 bibit mengalami pertumbuhan tidak optimal dan sekitar 2.000 bibit menunjukkan gejala tidak sehat, seperti daun menguning dan pertumbuhan lambat. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan bibit semata, melainkan pada sistem pengelolaan yang belum berbasis data.
Karena itu, Desa Seboto dinilai relevan sebagai calon desa mitra dalam topik Smart Farming. Desa ini memiliki lahan, petani, kelompok tani, bibit, dan dukungan lingkungan yang memadai, tetapi masih memerlukan penguatan pada aspek pemantauan tanah, pemupukan, dan pemanfaatan teknologi pertanian modern. Dengan kata lain, Seboto dipilih bukan hanya karena memiliki tantangan, tetapi karena memiliki peluang besar untuk berkembang ketika potensi yang ada dipadukan dengan inovasi yang tepat.
Arah penguatan yang diusung HMP PTI FKIP UMS menitikberatkan pada penerapan smart farming berbasis Internet of Things (IoT) dalam budidaya kopi. Program ini diarahkan pada penggunaan sensor untuk memantau pH tanah, kelembapan, dan suhu tanah secara real time, pembangunan demplot percontohan, pelatihan penggunaan teknologi kepada petani, hingga pengembangan platform digital Sebotani sebagai media monitoring dan informasi budidaya kopi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk membantu petani mengambil keputusan budidaya secara lebih akurat.
Melalui pendekatan tersebut, Desa Seboto dipandang memiliki landasan yang kuat untuk dikembangkan sebagai ruang tumbuh pertanian kopi yang lebih modern dan berkelanjutan. Dengan dukungan petani, kelompok tani, petani muda, serta potensi lahan yang sudah terbentuk, Desa Seboto menjadi pilihan strategis bagi HMP PTI FKIP UMS sebagai calon desa mitra dalam usulan PPK Ormawa 2026.
