
Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Tim PPK Ormawa Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HMP PGSD) FKIP UMS berhasil melaju ke Abdidaya 2025, ajang nasional yang mengapresiasi praktik terbaik pengabdian dan pemberdayaan masyarakat berbasis desa. Capaian ini menegaskan keseriusan mahasiswa UMS dalam menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan warga, berorientasi keberlanjutan, serta memberi dampak nyata di tingkat desa.
Dalam kompetisi tersebut, tim HMP PGSD FKIP UMS membawa program berjudul “Transformasi Menuju Desa Cerdas Terintegrasi: Pendekatan Kontekstual melalui Optimalisasi Kapasitas Masyarakat Desa Jagoan.” Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat melalui pendekatan partisipatif—mengutamakan keterlibatan warga sejak pemetaan masalah, perumusan solusi, hingga pelaksanaan kegiatan. Seluruh rangkaian program disusun dengan mempertimbangkan potensi lokal, kebutuhan aktual masyarakat, serta karakter sosial budaya desa.
Konsep “Desa Cerdas” yang diusung tim tidak semata-mata menonjolkan pemanfaatan teknologi. Program ini juga menempatkan penguatan sumber daya manusia, tata kelola, dan kemandirian warga sebagai fokus utama. Dengan demikian, transformasi desa diarahkan berjalan bertahap dan konsisten, sehingga perubahan yang terbentuk tidak berhenti saat program selesai, tetapi tetap berlanjut melalui peran dan kapasitas masyarakat yang semakin kuat.
Pada Abdidaya 2025, Tim PPK Ormawa HMP PGSD FKIP UMS dinyatakan lolos dalam dua kategori, yakni Peserta Kelompok Perguruan Tinggi—yang melibatkan dosen pendamping Ormawa dan tim pelaksana mahasiswa—serta Peserta Kelompok Mitra Keberlanjutan yang mencakup unsur pemerintah desa, kelompok sasaran, dan mitra eksternal. Pencapaian ini menunjukkan bahwa program yang dijalankan tidak hanya solid dari sisi perencanaan akademik, tetapi juga berhasil membangun kolaborasi lintas pihak di tingkat desa.
Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) UMS turut menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. DKPTI menegaskan bahwa keberhasilan ini lahir dari sinergi mahasiswa, dosen pendamping, dan mitra desa yang berjalan searah. Keikutsertaan dalam Abdidaya 2025 diharapkan menjadi ruang untuk berbagi praktik baik sekaligus memantik inspirasi bagi perguruan tinggi lain dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat.
Lebih dari sekadar kompetisi, Abdidaya 2025 menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi mahasiswa UMS dalam mendorong pembangunan desa berbasis pengetahuan, partisipasi, dan keberlanjutan. Melalui program “Desa Cerdas Terintegrasi”, tim HMP PGSD FKIP UMS menegaskan bahwa pengabdian bukan hanya kegiatan sesaat, tetapi proses transformasi yang dibangun bersama masyarakat dan ditujukan untuk jangka panjang.
