IMM Ar-Razi FK UMS Raih Pendanaan PPK Ormawa 2025, Fokus Tekan Risiko Katarak di Desa Sanggung

Surakarta — Kabar baik datang dari PK IMM Ar-Razi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS). Tim ini berhasil menembus pendanaan PPK Ormawa 2025, membawa program pengabdian yang menyoroti pencegahan kebutaan akibat katarak, dengan titik utama pelaksanaan di Desa Sanggung, Sukoharjo.

Ketua Umum PK IMM Ar-Razi, Pradestya Achmad Sulthon, menjelaskan bahwa program tersebut awalnya bukan agenda utama organisasi. Namun, energi kader yang menguat setelah kegiatan pelatihan kepemimpinan mendorong tim bergerak cepat: menyusun proposal, mendaftar, dan akhirnya lolos pendanaan.

Sulthon menambahkan, pengajuan program ini juga merupakan respons terhadap peluang yang dibuka PPK Ormawa. Dengan latar keilmuan kedokteran dan semangat kaderisasi IMM, mahasiswa dinilai perlu hadir memberi kontribusi yang langsung dirasakan masyarakat. Pengalaman mencoba program serupa sebelumnya—yang belum berhasil—justru menjadi pemantik untuk kembali maju.

Ketua Tim Pelaksana, Revalina Adinda Zakaria, menyampaikan bahwa gagasan program berangkat dari arahan ketua umum. Judul program yang diusung adalah pemberdayaan masyarakat untuk pencegahan kebutaan melalui deteksi dini dan edukasi katarak dengan Snellen Chart portable di Desa Sanggung.

Menurut Adinda, pemilihan isu katarak tidak muncul tiba-tiba. Saat pengalaman perkuliahan “blok mata” dan turun ke masyarakat, tim melihat indikasi kasus katarak cukup tinggi, terutama pada kelompok lansia. Karena itu, intervensi program dirancang praktis dan berbasis kebutuhan lapangan.

Program tersebut mencakup enam bentuk intervensi, yaitu:

  1. Cahaya Sehat — penyuluhan untuk lansia dan kelompok berisiko, disertai pre-test dan post-test.

  2. Kit Mata Mandiri — pembuatan Snellen Chart portable untuk skrining awal gangguan penglihatan.

  3. Kader Siaga Visus — pelatihan warga agar mampu membaca dan menggunakan Snellen Chart secara mandiri.

  4. Rujuk Mata Terarah — penyusunan sistem rujukan dari desa ke fasilitas kesehatan lanjutan.

  5. Baca Sehat — penyusunan booklet edukasi kesehatan mata untuk posyandu lansia.

  6. Safari Visus — pemeriksaan mata massal oleh kader bersama dokter spesialis mata.

Untuk mendukung pelaksanaan, tim juga membentuk divisi media dan komunikasi, mengikuti workshop kampus, serta menyiapkan kanal informasi melalui media sosial seperti Instagram dan YouTube. Di sisi teknis, mereka turut menggandeng vendor lokal untuk membantu perancangan alat bantu pemeriksaan mata mandiri.

Scroll to Top