Desa Jrakah, Ikhtiar Ketangguhan dari Lereng Merapi dan Merbabu

Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, menjadi calon desa mitra yang dipilih oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik UMS (BEM FT UMS) dalam usulan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026. Dalam gagasan yang diusung, BEM FT UMS memilih topik Desa Konservasi dan Tangguh Bencana, dengan perhatian utama pada penguatan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah yang berhadapan langsung dengan ancaman bencana alam.

Pemilihan Desa Jrakah tidak lepas dari karakter wilayahnya yang unik sekaligus rentan. Desa ini berada di antara lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, dengan luas wilayah sekitar 1.700 hektare, terdiri atas 13 dusun, 5 RW, dan 28 RT. Jumlah penduduknya mencapai 4.685 jiwa pada 2025, dan sekitar 90 persen warga menggantungkan hidup pada sektor pertanian, terutama tembakau dan sayuran. Kondisi tanah yang subur menjadikan Jrakah memiliki kekuatan di sektor agraris, tetapi letak geografisnya juga membuat desa ini akrab dengan risiko bencana.

Desa Jrakah termasuk kawasan yang menghadapi ancaman longsor dan erupsi secara bersamaan. Kerawanan longsor di wilayah ini tercatat tinggi, bahkan data kebencanaan yang dihimpun dalam kajian desa menunjukkan 19 kejadian longsor sepanjang 2023. Sebelumnya, peristiwa pada 2011 juga pernah menyebabkan sekitar 700 warga di Dusun Gesikan dan Tumut terisolasi akibat akses jalan utama terputus. Di sisi lain, ancaman erupsi Gunung Merapi tetap nyata, dengan status Siaga Level 3 yang bertahan sejak 2020 dan aktivitas vulkanik yang masih meningkat. Situasi ini menempatkan Desa Jrakah sebagai wilayah yang membutuhkan penguatan mitigasi secara serius dan berkelanjutan.

Kerentanan itu juga berdampak langsung pada kehidupan warga. Longsor kerap menutup akses antar dusun, menghambat mobilitas masyarakat, mengganggu distribusi hasil pertanian, serta memengaruhi aktivitas sekolah dan ekonomi desa. Dalam konteks seperti ini, kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga pada kesiapan sebelum bencana datang. Karena itulah, Desa Jrakah dipandang relevan sebagai calon desa mitra untuk penguatan mitigasi yang menyentuh aspek lingkungan, infrastruktur, teknologi, dan edukasi kebencanaan.

Di balik risiko yang dihadapi, Desa Jrakah juga memiliki potensi yang kuat. Selain sumber daya alam yang subur dan lanskap pegunungan yang bernilai konservasi, desa ini memiliki organisasi kepemudaan, Karang Taruna, dan relawan lokal yang dapat menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat. Jrakah juga memiliki sarana pendidikan mulai dari TK hingga SMP yang dinilai strategis untuk menanamkan literasi kebencanaan sejak dini. Potensi inilah yang membuat desa ini tidak hanya dilihat dari sisi persoalannya, tetapi juga dari kesiapan sosialnya untuk tumbuh menjadi desa yang lebih tangguh.

Arah penguatan yang disiapkan BEM FT UMS pun berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Fokus yang dirancang mencakup revegetasi kawasan hutan terdegradasi untuk mengurangi longsor dan erosi, pembangunan jalur evakuasi desa, pemasangan Early Warning System (EWS), penyelenggaraan Sekolah Siaga Bencana, hingga simulasi evakuasi massal. Dengan demikian, topik Desa Konservasi dan Tangguh Bencana tidak hanya hadir sebagai gagasan umum, tetapi diterjemahkan dalam langkah-langkah yang dekat dengan kondisi Jrakah sehari-hari.

BEM FT UMS juga memandang bahwa penguatan mitigasi di Desa Jrakah perlu dibangun melalui sinergi yang lebih luas. Karena itu, desa ini dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang melalui kolaborasi antara pemerintah desa, pemuda lokal, relawan, sekolah, dan pihak-pihak kebencanaan yang selama ini sudah dekat dengan wilayah lereng Merapi. Dengan modal sosial tersebut, Desa Jrakah memiliki pijakan yang cukup kuat untuk diarahkan menjadi desa yang lebih siap menghadapi bencana.

Scroll to Top