Sabtu, 26 Juli 2025 — Desa Jagoan.
Kegiatan PPK ORMAWA HMP PGSD FKIP UMS 2025 di Desa Jagoan menjadi langkah nyata kampus dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui sinergi mahasiswa dan warga, program ini dirancang sebagai ajang pengabdian sekaligus pemberdayaan yang fokus pada peningkatan kapasitas lokal dengan pendekatan edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan disusun untuk memperkuat fondasi “desa cerdas” yang terintegrasi—mulai dari penguatan sumber daya manusia, optimalisasi layanan berbasis komunitas, hingga penataan kolaborasi antarpemangku kepentingan di tingkat desa. Mahasiswa hadir bukan hanya membawa gagasan, tetapi juga mendampingi pelaksanaan di lapangan agar inisiatif yang berjalan relevan dengan konteks dan kebutuhan warga.
Selama pelaksanaan, tim melakukan pemetaan kebutuhan dan potensi desa sebagai dasar perencanaan program. Pendekatan ini memastikan intervensi yang dilakukan tepat sasaran, dapat diukur, dan mudah direplikasi oleh perangkat desa serta komunitas lokal setelah program berakhir.
Keterlibatan aktif masyarakat menjadi titik tekan utama. Warga, kader komunitas, serta tokoh lokal diajak berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Dengan cara ini, program tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan membangun kepemilikan bersama (sense of ownership) sehingga dampaknya bisa berumur panjang.
HMP PGSD FKIP UMS menegaskan bahwa kolaborasi lintas unsur—pemerintah desa, lembaga pendidikan, komunitas, dan dunia usaha setempat—merupakan kunci untuk mewujudkan layanan yang lebih inklusif, akses informasi yang lebih baik, serta tata kelola yang responsif terhadap perubahan zaman.
Melalui pendampingan yang terstruktur, kegiatan ini diharapkan memperkuat budaya belajar di desa, membuka ruang inovasi warga, dan menumbuhkan kemandirian. Ke depan, Desa Jagoan ditargetkan mampu melanjutkan berbagai inisiatif secara mandiri, dengan dukungan jejaring kampus yang tetap terbuka untuk kolaborasi lanjutan.
Kegiatan PPK ORMAWA HMP PGSD FKIP UMS 2025 di Desa Jagoan menjadi bukti bahwa semangat perubahan dari kampus untuk desa dapat dihadirkan secara konkret—demi masa depan yang lebih inklusif, cerdas, dan mandiri.
